Sekedar berbagi pengalaman dan pemikiran dalam
rangka menjalankan usaha menuju sebuah kemandirian finansial.
Dalam kehidupan sehari – hari kita memiliki
kewajiban untuk sukses dan mandiri secara finansial sehingga dapat menjalankan
kewajiban baik sebagai pribadi, kepala atau anggota keluarga, sebagai warga
negara dan masyarakat yang baik sperti membayar pajak, zakat dan sebagainya.
Juga untuk berperan aktif dalam kehidupan bermasyarakat, seperti
berpasrtisipasi di lingkungan RT/RW, membantu tetangga dan orang yang
kekurangan.
Untuk sukses secara finansial itu kita bisa memilih bekerja maupun berwirausaha. Atau mungkin menjalankan keduanya, bekerja dan berwirausaha.
Salah satu kegiatan wirausaha yang dapat dipilih, baik untuk usaha yang full akan dijalankan, maupun sebagai bisnis sampingan adalah bisnis jaringan. Salah satu jenis bisnis jaringan adalah Multi Level Marketing, sebuah jenis bisnis yang menggunakan sistem DIRECT SELLING, yaitu penjualan door to door serta pengembangan jaringan/member yang biasa disebut sebagai upline/downline.
Usaha Multi Level Marketing secara pengertian
dapat di cari pada wiki. Secara sederhana MLM merupakan sebuah bentuk METHODE
PENJUALAN BARANG yang menggunakan sistem DIRECT SELLING.
Direct Selling dipilih produsen/importing adalah untuk memotong jalur distribusi penjualan barang, sehingga produsen memiliki kontrol terhadap harga barang hingga sampai dengan ke konsumen, dan mengalihkan biaya distribusi menjadi sebuah peluang bagi konsumen untuk mendapatkan keuntungan berupa bonus dan penghasilan.
Dari hal tersebut, maka paradigma yang pas bahwa bisnis ini merupakan sebuah pekerjaan dalam bidang MARKETING yang dapat dilakukan oleh siapapun, sehingga seseorang dapat memiliki posisi sebagai MARKETING sebuah produk selain sebagai seorang KONSUMEN.
Oleh banyak orang MLM dipandang sebagai sebuah
opportunity, namun juga banyak dipandang atau memiliki image yang ‘nggak
banget’ dikarenakan praktek di lapangan banyak terjadi penyimpangan
operasional, serta unsur ketidaktahuan serta pembangunan opini dari beberapa
pihak yang kontra terhadap MLM.
1.
Realita dalam
MLM
Beberapa realita dalam
bisnis MLM yang sering dijumpai adalah munculnya sosok – sosok pebisnis MLM
yang berhasil, serta memiliki kehidupan yang sangat luar biasa. Jika kita
melihat majala internal sebuah bisnis MLM (ada MLM yang menerbitkan majalah
internal, untuk meliput kegiatan perkembangan bisnis dan jaringan para
anggotanya, serta acara – acara gathering internal), maka kita dapat menemukan
sosok pebisnis yang berhasil dalam kegiatan bisnis MLM.
Namun tak jarang juga, kita
temui pebisnis yang gagal. Mungkin di sekitar kita, sudah menjalankan bisnis
MLM namun tidak sukses, sudah mencoba banyak MLM namun tidak satupun jaringan
bisa terbentuk.
a.
Tipe Pebisnis
MLM
Pelaku bisnis MLM yang bisa berhasil, dapat kita lihat beberapa faktor
kesuksesan mereka. Saya kenal beberapa diantaranya, karena sejak kuliah saya
memiliki beberapa kawan, bahkan murid les yang berkecimpung di MLM (MLM yang
berbeda-beda). Dan mereka sukses dengan MLM mereka, sampai sekarang.
Mereka adalah pribadi – pribadi yang sangat menyenangkan, supel atau bisa
dibilang mereka adalah orang – orang yang selalu positive dalam memandang
sebuah masalah.
Salah satu dari mereka sekarang sukses sebagai karyawan di sebuah
perusahaan di Jepang, namun sampai sekarang juga menjalankan bisnis tersebut di
sana. Dia seorang yang cerdas, (lulusan PTN ternama di surabaya, jurusan teknik
informatika dengan predikat cumlaude). Dia memahami dan sangat mengerti arti
bisnis MLM, rule – rulenya serta etika dalam menjalankan bisnisnya. Dan yang
saya sangat salut, dia pernah menunjukkan kepada saya plan – plan yang akan
dikerjakan pada waktu itu. Seperti mengunjungi prospek dan partner kerja,
membuat bahan marketing dan sebagainya.
Demikian halnya dengan seorang anak SMA, murid les saya. Waktu itu saya
masih kuliah, dan menjadi guru les untuk menambah uang saku. Dia masih kelas 2
waktu pertama kali bergabung dengan sebuah MLM, karena diajak oleh teman
sekolahnya. Dan ketika les dengan saya, dia sudah memiliki beberapa partner
kerja, dan beberapa kali saya mengetahui mereka berdiskusi dalam mengembangkan
jaringan, mulai membuat daftar prospek, jadwal ketemuan, sampe mengikuti
kegiatan pelatihan-pelatihan yang diadakan serta seminar untuk mengembangkan
usaha.
Juga beberapa orang yang lain, semuanya memiliki kesamaan, mengerti ttg
bisnis MLM, rule dan etika, mereka dengan patuh dan taat pada rule tersebut
menjalankan usahanya, serta PLANNING, mereka selalu memiliki sebuah rencana
bagaimana menjalankan usaha tersebut, serta mengevaluasinya.
Namun, jangan salah saya juga mengenal beberapa teman maupun kenalan yang
juga menjaankan bisnisnya, dan sampai sekarang juga masih rajin mengajak saya
untuk bergabung dalam bisnis yang dia kelola. Melakukan pendekatan dengan
segala cara, sehingga terkesan memaksa, dengan iming – iming bonus serta
penghasilan passive income yang besar dengan cepat. Namun setelah saya lihat,
jaringan mereka tidak berkembang, bahkan mereka masih harus mengeluarkan dana
yang tidak sedikit agar keanggotaannya masih tetap berlaku dengan berbelanja
produk – produk yang mereka jual.
Bahkan ada juga yang sekarang sudah berhenti, dan membiarkan keanggotaannya
menjadi tidak aktif di jaringan, dengan alasan mengembangkan MLM susah.
b.
Jaringan yang
baik
Memilih bisnis MLM penting, namun memilih jaringan tidak kalah pentingnya.
Jaringan adalah sebuah organisasi tempat dimana kita akan bekerja. Jika
jaringan tersebut baik maka tentunya kita akan merasa nyaman, dan kerasan
sehingga akan menimbulkan semangat untuk berusaha. Sama seperti kita di
lingkungan kerja, jika kita bekerja dengan orang – orang yang baik,
bersemangat, fair, dan mau berbagi dan saling support, tentunya kita akan
merasa nyaman dan kerasan untuk bekerja dan memberikan hasil pekerjaan yang
optimal.
Jaringan yang beretika, mengerti bisnis, etika bisnis serta menjalankan
bisnis secara baik dan benar, akan memudahkan kita berkembang.
Saya pernah membaca rule dan etika sebuah MLM, di mana member tidak boleh
menawarkan barang secara online dengan memajang produk –produknya di media
online, seperti blog, facebook dan sebagainya, namun banyak membernya yang
masih melakukan hal tersebut. Secara sepintas mungkin tidak masalah, karena usaha
untuk menjual barang dengan menawarkan secara online tentunya diharapkan akan
berhasil, namun apabila kemudian kita bisa bayangkan, jika semua melakukan hal
yang sama. Akan timbul persaingan, karena di media akan terjadi perebutan
konsumen yang tidak sehat, misal persaingan harga dan sebagainya. Yang
menjadikan bisnis menjadi saling menjatuhkan di antara vendor yang sama.
Bayangan jika hal tersebut terjadi di sebuah jaringan yang sama??
2.
Usaha
Penjualan Barang
Berdasarkan definisi serta
tujuan produsen memilih methode penjualan DIRECT SELLING melalui multi level
marketing, maka bisnis MLM merupakan suatu peluang usaha dalam bidang
marketing. Sehingga perlu dibangun paradigma sebagai berikut :
a.
Berpikir
penjualan barang sebagai nyawa dari bisnis
Karena MLM merupakan sebuan metode penjualan barang dan penjualan
produk/barang merupakan tujuan dari metode ini, maka penjualan barang adalah
inti dari bisnis ini. Kita harus dapat memasarkan produk dari sebuah MLM untuk
bisa sukses di bisnis ini.
b.
Berpikir
sebagai marketing
Untuk bisa menjual, posisi kita dalam bisnis ini tentunya adalah sebagai seorang
tenaga marketing, sales atau pedagang. Sehingga sebagai seorang marketing
tentunya akan belajar bagaimana menjadi seorang marketing yang baik untuk dapat
sukses dalam bisnis ini.
c.
Memiliki
target penjualan yang jelas
Sebagai tenaga marketing, atau sales pasti memiliki target penjualan.
Meskipun merupakan usaha yang dijalankan sendiri, penentuan target penjualan
merupakan suatu hal yang penting sebagai tolok ukur keberhasilan dalam
menjalankan bisnis.
d.
Memiliki
pengetahuan produk dan segment yang jelas.
Seorang marketing yang baik tentunya harus memiliki pengetahuan yang baik
mengenai produk – produk yang dipasarkan. Dengan mengetahui pengetahuan ttg
produk, maka selain dapat memberikan informasi kepada pelanggan, juga akan
dapat menentukan segmen atau jenis pelanggan yang sesuai untuk produk yag
dijual, sehingga penjualannya bisa maksimal.
3.
Usaha
Pengembangan Jaringan
MLM merupakan sebuah metode
penjualan yang menggunakan media jaringan, sehingga setiap pelakunya harus
dapat mengembangkan jaringan untuk bisa memaksimalkan penjualannya. Secara umum
semua bisnis juga menggunakan jaringan sehingga dapat berkembang, namun secara
prinsip terdapat perbedaan, di mana pada bisnis konvensional jaringan yang
dikembangkan adalah jaringan distribusi dan tentunya pelanggan. Sedangkan pada
MLM tidak dikenal jaringan distribusi secara spesifik, karena pelanggan
merupakan jaringan distribusi sekaligus pelanggan bagi produk MLM. Beberapa hal
yang terkait dalam jaringan MLM, adalah :
a.
Berpikir
seperti akan merekrut partnert kerja
Sebagai pelaku MLM, jaringan merupakan partner dalam hal bekerja, karena
downline merupakan pelanggan sekaligus jalur distribusi yang dapat meningkatkan
volume penjualan jaringannya. Sehingga dalam mengembangkan jaringan, harus
dipertimbangkan bukan hanya mencari seorang downline, yang mendaftar kepada
vendor sebagai member yang kita sponsori, lebih penting lagi downline adalah
partner kerja yang harus memiliki visi, misi dan mau beraksi sama dengan yang
kita lakukan. Sehingga jaringan akan semakin besar, dan menghasilkan sesuatu
sesuai dengan harapan kita.
b.
Jaringan
sebagai aset dan sumber penghasilan
Jaringan bagi MLM adalah sangat penting, sehingga memiliki jaringan harus
terus dipelihara dan selalu dikembangkan. Sehingga, kegiatan untuk mencari
partner kerja juga tidak boleh terhenti meskipun downline kita sudah sesuai
dengan aturan dari vendor MLM. Hal ini juga merupakan sebuah support bagi
partner kita yang telah kita ajak bekerjasama.
Setelah mengetahui konsep dan paradigma dalam usaha MLM, maka kita lanjutkan untuk menjalankan usaha MLM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar